FOKUS TANGANI COVID-19, JANGAN ABAIKAN VIRUS HIV/AIDS

pemerintah NTB juga tidak bisa abai atau lengah dengan penyebaran virus HIV/Aids. Edukasi masif secara periodik di tengah masyarakat menjadi penting d

FOKUS TANGANI COVID-19, JANGAN ABAIKAN VIRUS HIV/AIDS
Pahlawan pencegahan HIV/Aids di NTB

MATARAM-Perhatian pemerintah kini masih tertuju pada penanganan covid-19. Meski masih harus berjuang sampai bisa kembali normal, pemerintah NTB juga tidak bisa abai atau lengah dengan penyebaran virus HIV/Aids. Edukasi masif secara periodik di tengah masyarakat menjadi penting dilakukan untuk menekan penyebaran virus HIV/Aids.

Data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) NTB, pada kasus HIV secara komulatif hingga Maret 2021 mencapai 1.104 orang. Sementara, kasus AIDS secara komulatif sampai Maret 2021 sebanyak 1.193 orang.

Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah menghimbau kepada seluruh stakeholder untuk terus memaksimalkan edukasi kepada masyarakat guna menghentikan penyebaran HIV/AIDS. “Harus lebih dimasifkan lagi edukasi kepada masyarakat, karena edukasi ini sangat penting,” tutur Umi Rohmi saat menerima Laporan Penanggulangan AIDS NTB di aula pendopo wakil gubernur, beberapa hari lalu.

Ummi Rohmi juga mengusulkan agar pemberian edukasi dapat dilakukan secara digital atau memanfaatkan sosial media sebagai media pembelajaran.

“Zaman sekarang dengan berkembangnya teknologi ini banyak sekali efisiensi yang dapat dilakukan, sehingga penyebaran informasi dapat dimaksimalkan secara lebih luas. Nah bagaimana caranya dikemas dengan cara menarik agar cepat dipahami masyarakat," ujar Rohmi.

Perhatian pertama, sasaran program penanggulangan yaitu Pekerja Migran Indonesia (PMI), Gay, Waria, Laki – laki (GWL), Hubungan Hetero Seksual dan sebagainya. Kepala Dinas Kesehatan dr. H. Lalu Hamzi Fikri mengungkapkan bahwa terdapat kasus PMI yang datang ke NTB membawa virus kepada keluarganya.

“Atensi kita saat ini kepada PMI, ada beberapa PMI yang membawa virus HIV/AIDS sehingga perlunya dilakukan screening ketika kalangan PMI ini tiba di daerah,” tuturnya.

Selain itu, Kadis Kesehatan menuturkan bahwa pelayanan pengobatan terapi HIV-AIDS hanya dapat dilakukan pada 12 Rumah Sakit di NTB. Tetapi Pemerintah Daerah yang telah didukung oleh Pemerintah Pusat akan memperluas pelayanan pengobatan terapi HIV-AIDS dengan memanfaatkan puskesmas. “Bagaimana memaksimalkan puskesmas bisa menjalankan terapi bagi pasien yang terdeteksi,” imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris KPA NTB, H. Soeharmanto, menuturkan bahwa sejauh ini, kasus HIV/AIDS banyak didominasi penduduk usia produktif 20 – 40 tahun, selain itu Ibu Rumah Tangga tertinggi kedua setelah wiraswasta.

“Ini yang perlu kita antisipasi banyaknya keluarga yang suaminya kerja diluar negeri atau luar daerah yang sering membawa virus untuk isteri, dimana penyebab utamanya yakni heteroseksual,” pungkas Soeharmanto. (tim)