LARANGAN MUDIK CEGAH COVID-19, EFEKTIFKAH?

LARANGAN MUDIK CEGAH COVID-19, EFEKTIFKAH?
Foto : Hermawan Saputra
Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia

 

JAKARTA-Aturan larangan mudik sudah ditetapkan pemerintah. Namun, sejauh mana larangan mudik ini bisa efektif mencegah penyebaran covid-19? Berikut ulasan Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra.

Hermawan Saputra sangat mengapresiasi aturan larangan mudik tahun ini. Bercermin dari sejumlah kegiatan masyarakat mulai libur cuti bersama, mudik kucing-kucingan dan juga aktivitas di destinasi wisata tahun lalu. Semua aktivitas itu menyumbang satu sampai dua kali lipat jumlah warga yang terpapar covid-19.

Larangan mudik tahun ini, terang Hermawan, menjadi pilihan terbaik. Namun, larangan mudik menjadi percuma jika tidak diikuti kebijakan lain dari pemerintah. Pertama transportasi tidak dibuka seperti biasa. Karena kalau mudik dilarang tapi transportasi dibuka dengan sarana dan prasarananya, itu sama halnya berucap tapi tidak berbuat. Selaras dengan itu pemerintah harus membatasi transportasi antar provinsi, daerah dan wilayah. Yang kedua, bagaimana pemerintah mengendalikan sentra-sentra pariwisata dan tempat-tempat keramaian yang mungkin menjadi pilihan ketika masyarakat tidak mudik.

Saat mudik berlangsung terjadi mobilitas puluhan juta masyarakat Indonesia dalam satu periode yang sempit. Sehingga, bisa jadi keramaian di kota yang tidak ada mudik berimbas pada tingginya mobilitas karena silaturahmi, makan bersama dan liburan di tempat pariwisata. Oleh karena itu pemerintah harus siap dengan segala rekayasa ruang dan waktu sehingga larangan mudik ini bisa jadi lebih efektif dan optimal. Jika itu bisa dilakukan kita mampu meminimalisir penyebaran virus ini. Karena sudah 13 bulan pemerintah bekerja keras menekan laju penyebaran covid-19.

Hermawan melihat pemerintah sudah siap dalam kebijakan. Namun menurutnya harus dilihat lagi dalam implementasi. Hermawan mencontohkan beberapa kegiatan terbuka masyarakat yang sempat viral seperti pernikahan, kegiatan sosial dan budaya menjadi hal yang dibolehkan.

Mudik ini penyebabnya, setelah Ramadhan orang akan silaturahmi dan berkumpul melibatkan banyak orang. Memang, ini kegiatan mulia, bagian dari budaya yang baik di negeri kita. Tetapi saat ini dalam kondisi pandemi covid-19, maka antusias kita bersilaturahim, berkunjung ke keluarga dan tempat wisata harus kembali diingatkan. Kita belum keluar dari pandemi dan butuh kesabaran menunggu situasi kembali normal. Langkah ini diperlukan untuk menuntaskan pandemi covid sehingga tahun ini tahun terbaik dan memastikan mudik tidak perlu kita lakukan. Kita ingin memastikan bisa keluar dari puncak pandemi beberapa waktu ke depan seiring dengan upaya yang dilakukan pemerintah memperketat protokol kesehatan. (tim)