OPTIMIS MENATAP PARIWISATA NTB DI TENGAH PANDEMI

Hasil rembuk ini nantinya akan diformulasikan menjadi program pariwisata yang ramah pandemi covid-19.
OPTIMIS MENATAP PARIWISATA NTB DI TENGAH PANDEMI
Kadispar NTB, Yusron Hadi ajak asosiasi pariwisata optimis di tengah pandemi

MATARAM-Empat hari setelah ditunjuk menempati jabatan Kepala Dinas Pariwisata NTB, Yusron Hadi, langsung bergerak cepat. Rembuk pariwisata adalah inisiatif pertamanya. Seluruh asosiasi, pelaku pariwisata, akademisi, jurnalis dan semua unsur pentahelik lainnya dikumpulkan Yusron di kantor Dinas Pariwisata, Kamis (29/4). Hasil rembuk ini nantinya akan diformulasikan menjadi program pariwisata yang ramah pandemi covid-19.

Rembuk pariwisata ini dimaksudkan untuk menjaring aspirasi seluruh kepentingan insan pariwisata. Hampir semua peserta rembuk menitipkan harapan besar di pundak Yusron, agar pariwisata NTB segera bangkit. Masa pandemi menyebabkan hampir 90 persen industri pariwisata di Lombok-Sumbawa mati suri.

Sebagai nakoda baru pariwisata NTB, Kadispar Yusron Hadi, dituntut mampu merangkul semua unsur pelaku industri pariwisata agar tidak bercerai berai. Terutama bagaimana merancang kegiatan dan promosi pariwisata NTB di masa pandemi ini. "Sifatnya skala prioritas. Mana kegiatan dan destinasi yang punya kualitas itu yang kita kuatkan dulu. Tentunya harus disesuaikan juga dengan kondisi new normal ini," tukas Ketua Asita, Umbu.

Dari unsur asosiasi lain mengeluhkan sulitnya mendapatkan izin keramaian. Ketua INCCA NTB, M. Nurhaidin misalnya. Menurutnya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pariwisata kerap mendapat kesulitan mendapatkan izin. "Harus berkeadilan. Satu sisi kegiatan masyarakat yang menimbulkan kerumunan masih diperbolehkan. Sementara kami kok sulit sekali (mendapat izin)," keluh Edo--sapaan akrab M. Nurhaidin.

Jika harus mengacu pada penerapan protokol kesehatan yang ketat, kalangan pelaku industri pariwisata tidak keberatan. Termasuk kapasitas peserta yang dibatasi dalam kegiatan itu.

Keluhan yang sama juga disampaikan pelaku industri lain. Di masa pandemi kegiatan usaha mereka, termasuk UMKM nyaris tidak berkutik. Misalnya usaha kecil dan menengah pembuatan tenun di Lombok Utara. Solusi sistem penjualan menggunakan media sosial (medsos)--penjualan online, juga tidak cukup membantu. "Pelaku usaha kerajinan tenun di KLU tolong diperhatikan. Di masa pandemi ini mereka sudah tidak produktif lagi. Usul saya bagaimana membuat pariwisata NTB ini terintegrasi," sambung Lalu Kusnawan dari asosiasi hotel tiga gili memberi saran.

Mendengar kesulitan kalangan pelaku industri, Yusron Hadi mengaku perihatin. Memilih dan memilah program wisata di tengah pandemi ini memang tidak mudah. Namun, Yusron optimis, jika dilakukan secara bersama, industri pariwisata ini bisa bangkit lagi. "Banyak produksi UMKM kita yang menggunakan bahan baku lokal seharusnya bisa masuk ke hotel-hotel. Misalnya kopi, gula, dan hasil pertanian lain setidaknya bisa dipajang di gerai-gerai atau kamar hotel," ujar Yusron memberi contoh.

Kondisi ini, lanjut Yusron, memang sulit. Tetapi kita harus melakukan sesuatu yang bisa membuat industri pariwisata ini terus bertahan di tengah pandemi. Kita harus optimis, terus ikhtiar dan berbuat. Kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir. "Yang terpenting kita harus terus membangun komunikasi. Kita perkuat komunikasi dan memilih program serta destinasi yang berkualitas. Kita pilih mana yang cocok dijual di tengah pandemi ini," ungkapnya.

Semua berharap industri pariwisata Lombok-Sumbawa akan segera bangkit. Di depan sejumlah event menunggu. Seperti event world superbike yang akan digelar Nopember. "Beberapa kegiatan menunggu kita terkait road to moto gp," pungkas Yusron memberi semangat. (01)