PEREMPUAN NTB DALAM BINGKAI BUDAYA LITERASI

Perempuan juga harus cerdas dengan mengedepankan budaya membaca. Budaya baca masyarakat NTB masih tergolong rendah karena rata-rata tingkat pendidikan
PEREMPUAN NTB DALAM BINGKAI BUDAYA LITERASI
Hj Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah saat menyampaikan pandangannya

MATARAM-Perempuan NTB tidak boleh terkungkung dan harus bisa bersaing di era milenial seperti sekarang. Perempuan juga harus cerdas dengan mengedepankan budaya membaca. Budaya baca masyarakat NTB masih tergolong rendah karena rata-rata tingkat pendidikan masysrakat hanya sebatas pendidikan dasar.

Budaya literasi menjadi penting di kalangan perempuan NTB karena beratus-ratus tahun, pendidikan hanya dikuasai kaum laki-laki. Mitos karena laki-laki akan bertanggung jawab memberi nafkah anak dan istrinya harus memiliki pendidikan lebih baik dari perempuan. Mitos ini sudah tidak berlaku lagi di era milenial ini. Terlebih di tengah pandemi covid-19 ini peran kaum perempuan bisa lebih dominan dari laki-laki. Budaya literasi di kalangan perempuan harus digalakkan sebagaimana dicontohkan RA Kartini.

Setidaknya itu garis besar penyampaian Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTB, Hj Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah, saat menjadi pembicara kunci dalam Webinar Menulis Esai "Kiprah Kartini Perempuan Milenial" yang diselenggarakan Ikatan Guru Indonesia (IGI) NTB, Kamis (29/4). "Bagaimana Kartini dari kecil rajin membaca buku dan menulis membuatnya kaya akan literasi, harus kita contoh," jelas Bunda Niken--sapaan akrabnya.

Bunda Niken lebih jauh menjelaskan, budaya membaca dan menulis yang diwariskan Kartini harus juga dibudayakan oleh perempuan itu sendiri, kepada anak, dan keluarganya. Karena perempuan merupakan sekolah pertama di rumah. Maka terus belajar dan mengajar adalah hal yang harus dilakukan oleh seorang perempuan.

Dengan menulis, lanjut Bunda PAUD Nasional ini, dapat membantu mengungkapkan ide, gagasan, dan cita-citan setiap orang. Dengan begitu juga, dapat membantu setiap orang khususnya perempuan menyalurkan kegelisahan di era milenial dan pandemi Covid-19 yang banyak bergejolak seperti saat ini.

"Kemampuan menulis adalah sesuatu yg amat berharga. Melalui menulis, kita dapat menyampaikan kegelisahan, inspirasi dan ide-ide kita," jelas isteri orang nomor 1 NTB tersebut.

Kepala Bidang Kebudayaan Dikbud NTB, Fairuz Abadi, yang juga menjadi pembicara di forum ini menambahkan, tema dalam webinar ini "Kiprah Kartini Perempuan Milenial" dapat diartikan sebagai sebuah ikhtiar. Ikhtiar dimana perempuan terus berusaha untuk memberikan perannya. "Perempuan selalu bisa beradaptasi pada setiap zamannya," tegas Fairuz.

Mantan Kabid IKP Diskominfotik NTB tersebut menjelaskan, perempuan adalah mahluk yang paling bisa beradaptasi di setiap zaman. Bahkan di zaman milenial dan pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, perannya tak perlu diragukan lagi. Baik di rumah, di tempat kerja, maupun di lingkungan masyarakat. Hal yang patut dicontoh dan dihargai dengan sepenuh hati. (tim)