POLDA NTB RINGKUS MUCIKARI PROSTITUSI ONLINE

Polda NTB dalam dua pekan terakhir, berhasil menjaring tiga mucikari prostitusi online di Lombok-NTB. Satu diantaranya masih berstatus mahasiswa...
POLDA NTB RINGKUS MUCIKARI PROSTITUSI ONLINE
Jumpa pers di Polda NTB ungkap kasus penyakit masyarakat

MATARAM-Operasi penyakit masyarakat (pekat) Polda NTB dalam dua pekan terakhir, berhasil menjaring tiga mucikari prostitusi online di Lombok-NTB. Satu diantaranya masih berstatus mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Polda NTB dan jajarannya bergerak cepat menyisir sejumlah hotel di Mataram yang diduga dijadikan tempàt trànsaksi prostitusi setelah mendapat laporan masyarakat. Dua pekan bergerak, Reskrimum Polda NTB berhasil mengungkap mucikari, pelaku dan sejumlah barang bukti. Diantara barang bukti yang diamankan aparat berupa handphone, kunci kamar hotel, uang berjumlah jutaan rupiah yang diduga hasil transaksi, pakaian dalam wanita dan lainnya. Selama dua pekan Polda NTB dan jajarannya mengungkap 18 kasus prostitusi online dan mengamankan 20 tersangka. Tiga diantaranya merupakan mucikari sekaligus pelaku.

Direktur Reskrim Umum (Direskrimum) Polda NTB, Kombes (Pol) Hari Brata, dalam jumpa pers di Polda NTB, menjelaskan operasi penyakit masyarakat dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Selaian prostitusi, Polda NTB mengamankan pelaku judi, dan minuman keras. "Kami bergerak sebelum memasuki bulan Ramadhan untuk menertibkan judi dan penjual minuman keras.

Salah seorang tersangka mucikari prostitusi online, berstatus mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Selama berada di Lombok, dia berhasil menjajakan anak buahnya dengan harga tertinggi mencapai Rp 1,6 juta sekali kencan. Ia mengaku terpaksa melakukan perbuatan ini karena kesulitan ekonomi selama pandemi ini.

Dua mucikari lainnya berasal dari Lombok, beroperasi di sekitar Mataram dan Cakranegara. Keduanya tergolong pemain lama di dunia prostitusi tapi baru coba-coba menggunakan aplikasi medsos seperti facebook dan me-chat, kemudian transaksi lanjutan menggunakan whatsapp.

Tersangka dijerat dengan pasal berlapis menyangkut undang-undang perdagangan orang, perlindungan anak dan undang-undang ITE. Ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. (01)