DARURAT PARIWISATA YUSRON : CHSE TUNTAS PEKAN INI

Kepala Dinas Pariwisata NTB, Yusron Hadi, menatap positif dan mempercepat penyelesaian status CHSE di sejumlah destinasi di Lombok-Sumbawa.
DARURAT PARIWISATA YUSRON : CHSE TUNTAS PEKAN INI
Kadispar NTB, Yusron Hadi, saat menyambut kedatangan Menparekraf, Sandiaga Uno di Lombok

MATARAM, kataberita.net - Memasuki tahun kedua, masa pandemi covid-19 belum terlihat tanda-tanda melandai. Dunia pariwisata dan berdampak ke sektor ekonomi, paling terasa di daerah yang mengandalkan pariwisata sebagai sumber pendapatan terbesar. Sebut saja Bali, Jogjakarta, Lombok-Sumbawa dan beberapa daerah lain di Indonesia. Karena kondisi pandemi ini, di kalangan pemerhati dan pakar menyebutnya dengan kondisi 'darurat pariwisata'. Di tengah kondisi memperihatinkan ini, Kepala Dinas Pariwisata NTB, Yusron Hadi, menatap positif dan mempercepat penyelesaian status CHSE di sejumlah destinasi di Lombok-Sumbawa.

"Kami ingin berdamai dengan pandemi covid-19 ini. Kami ingin memberi ruang bagi wisatawan agar bisa berwisata dengan aman dan ramah pandemi. Untuk mewujudkan wisata ramah pandemi ini, kami mematok target pekan ini setidaknya sejumlah destinasi di NTB sudah ter-CHSE," terang Yusron, Kamis (27/5).

Penerapan protokol kesehatan yang berbasis Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan) disingkat CHSE, menjadi standar destinasi wisata yang ramah pandemi. Untuk bisa mewujudkan kondisi ini, pemerintah daerah bersama satgas penanggulangan penyebaran covid-19 bekerja keras, menekan tingkat penyebaran virus mematikan ini. "Termasuk di NTB. Kalau mau pariwisata kita pulih, ekonomi pulih maka semua pihak harus mendukung usaha pemulihan ini dengan menjaga prokes," tambah Yusron.

Di kalangan pemerhati, situasi sulit ditengah pandemi ini, digambarkan sebagai situasi darurat. Dunia pariwisata dalam kondisi kritis. Untuk kondisi ini dibutuhkan dokter dengan treatment tepat agar pariwisata nasional kembali sehat.

Pengamat pariwisata nasional Taufan Rahmadi beberapa waktu lalu saat melakukan podcast bersama kicknews.today mengatakan, gambaran sektor pariwisata kita saat ini ibaratnya seperti di emergency room. Di sebuah rumah sakit, sehingga kita membutuhkan dokter yang baik, dokter yang baik itu seperti apa? yaitu menggunakan standar global.

"Kalau di tourism harus berkiblat pada UNWTO yang merupakan Organisasi Pariwisata Dunia di PBB. Pastikan kenyamanan dan kebersihan tempat wisata," sarannya.

Taufan pun sangat mendukung program pemerintah dalam upaya menghentikan penyebaran Covid-19. Misalkan saja vaksin yang sedang berjalan serta program Kemenparekraf Kemenparekraf berupa penerapan protokol kesehatan yang berbasis pada Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan) disingkat CHSE.

Setelah semua itu diterapkan, lalu berbicara tahap selanjutnya, yaitu relaksasi atau insentif bagi pelaku usaha pariwisata. "Dana hibah pariwisata di era sekarang cakupannya tida sebatas hotel dan restoran, namun merabah ke agen travel dan tour guide serta seniman akan dapat," jelasnya.

Menurutnya kehadiran travel bubble dapat memudahkan kembali geliat pariwisata nasional. Pemerintah bisa merokomendasikan tempat wisata yang aman dari Covid-19, dia lantas mencontohkan, wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) telah menerapkan konsep tersebut, seperti KEK Mandalika dan Tiga Gili.

Terakhir perlu dibangun secara konsisten Travel Corridor Arrangement (TCA). Usai itu, dapat memperluas konsep bubble seperti bubble hotel, bubble restoran dan destinasi wilayah lainnya.

"Sudah waktunya pemerintah menciptakan wisata ramah Covid-19. terjadinya penyekatan dan penutupan dimana-mana itu menandakan adanya ketidak sinkronan, karena pemikiran kita dibiasakan untuk mencegah Covid harus dilakukan penutupan padahal WHO mengatakan yang nama Covid tidak tahu kapan selesainya," terangnya.

Taufan menerangkan, mau tidak mau pemerintah harus siap agar hidup berdampingan dengan Covid-19. Hal senada disampaikan pula oleh GM Holiday Resort Lombok, I Ketut Mertajaya Kusuma menegaskan, pihaknya betul-betul menerapkan CHSE di masa pandemi ini.

"Semua sesuai CHSE, mulai dari proses cek in nya, pekerja juga harus mengikuti protokol kesehatan, sampai di kamar terus kita lakukan audit juga pendampingan memastinkan keamanan pengunjung," jelas Mertajaya

Mertajaya mengungkapkan, pengusaha hotel sepertinya sangat terpukul atas berlangsungnya pandemi, sebab sejak pandemi dia harus memutar otak guna mengembalikan okupansi hunian kembali normal. (tim)