NTB JADI PUSAT BUDIDAYA LOBSTER NASIONAL

Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan kembali komitmennya menjadikan NTB sebagai pusat budidaya
NTB JADI PUSAT BUDIDAYA LOBSTER NASIONAL
Dr. Zulkieflimansyah saat bertemu menteri KKP RI, Sakti Wahyu Trenggono

JAKARTA, kataberita.net - Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan kembali komitmennya menjadikan NTB sebagai pusat budidaya lobster nasional. Penegasan dan komitmen menteri KKP ini disampaikan langsung ke Gubernur NTB, Dr Zulkieflimansyah usai bertemu menteri di gedung Kementerian KKP, Kamis (27/5) di Jakarta.

Maret lalu, Provinsi NTB memang ditunjuk menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono sebagai pusat budidaya lobster nasional. Dr Zul--sapaannya, saat road show ke sejumlah kantor kementerian di Jakarta, 'jemput bola' membahas hal-hal strategis maupun teknis dalam rangka mewujudkan NTB sebagai pusat budidaya lobster nasional.

"Pak menteri menegaskan kembali komitmen menjadikan NTB sebagai pusat budidaya Lobster nasional. Konkritnya mulai tahun ini akan dibangun kawasan budidaya terintegrasi yaitu LOBSTER ESTATE di Telong elong Lotim serta membangun SHRIMP ESTATE di SAMOTA" terang Dr Zul.

Dr Zul meyakini, rencana pengembangan NTB sebagai pusat budidaya lobster nasional akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan penghasilan masyarakat. Kemudian kendala-kendala yang dihadapi pemda dan pembudidaya lobster selama ini juga bisa teratasi.

"Dengan membangun lobster estate, para nelayan dan pembudidaya akan didampingi pemerintah. Ada intervensi teknologi pembudidayaan.
Lebih jauh nantinya akan ada sistem pemantauan harga, sehingga harga lobster lebih transparan dan stabil.
Melalui program ini proses produksi dan pemasaran akan terintegrasi, sehingga tingkat produktivitas dan kesejahteraan masyarakat ikut meningkat" ungkap pria yang meraih gelar doktor bidang Ekonomi Industri ini.

Sementara itu, Trenggono menjelaskan alasan kuat dijadikannya NTB sebagai pusat budidaya lobster di Indonesia, karena secara infrastruktur dan sumber daya manusia NTB sudah memenuhi syarat, tinggal diperkuat.

Menteri Trenggono menegaskan, pelaksanaan program pengembangan harus sesuai dengan prinsip ekonomi biru, sehingga produktivitas tambak-tambak budidaya lobster tidak mengancam kelestarian laut Lombok yang indah dan bersih. "Di samping itu, program pengembangan harus membawa berkah bagi masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun sosial," imbuh Trenggono.

Sepanjang tahun lalu berdasarkan data Pemprov NTB, produktivitas budidaya di kampung lobster Lombok Timur mencapai 82.568 kilogram atau setara Rp41,28 miliar. Sedangkan jumlah pembudidaya sekitar 147 kelompok dengan total keramba jaring apung lebih dari 8.400 lubang.

Selain soal budidaya lobster, dalam pertemuan tersebut juga dibahas tentang rencana pengembangan budidaya udang dan rumput laut. Ada beberapa kawasan di NTB yang dinilai sangat cocok untuk mengembangkan budidaya dua komoditas tersebut. (tim)