PRODUK 'BUBBEL' JAMINAN BERWISATA RAMAH DI TENGAH PANDEMI

Lombok-Sumbawa (NTB, red) sudah merancang produk pariwisata ramah pandemi covid-19. Namanya, bubble tourism.
PRODUK 'BUBBEL' JAMINAN BERWISATA RAMAH DI TENGAH PANDEMI
Taufan Rahmadi dan pelaku pariwisata, di antara destinasi wisata

 

MATARAM-Ditengah lesunya kunjungan wisatawan ke Indonesia, pemerintah, industri dan pelaku pariwisata, dituntut lebih kreatif dalam men-drive potensi wisata daerah masing-masing di tengah pandemi. Lombok-Sumbawa (NTB, red) sudah merancang produk pariwisata ramah pandemi covid-19. Namanya, bubble tourism.


NTB nantinya akan menyiapkan tiga konsep produk 'bubble' pariwisata ramah covid-19. Pegiat pariwisata nasional, Taufan Rahmadi (TR), mengusulkan tiga produk bubble dimaksud adalah Bubble Destination, Bubble Island dan Bubble Village. "Tapi tidak menutup kemungkinan muncul bubble-bubble yang lain dalam konsep yang lebih sederhana selain tiga konsep yang sudah kita siapkan," ungkap TR d, Sabtu (1/5) di Mataram.

Ide menciptakan konsep destinasi dengan bubble-bubble ini, dimaksudkan untuk memberi jaminan kepada wisatawan. Ada rasa aman, nyaman dan bebas dari rasa khawatir terpapar virus covid-19. "Kami jamin. Dan kami ingin meyakinkan wisatawan, di tengah pandemi pun kita masih bisa berwisata. Tentunya dengan sejumlah catatan yang harus diperhatikan," imbuhnya bersemangat.

Bubble Destination, lanjut TR, merupakan modifikasi dari kebijakan Travel Coridor Arrangement ( TCA lingkupnya antar negara). Sedangkan bubble destination lingkupnya adalah koridor perjalanan antar destinasi di tengah pandemi. Bubble destination adalah kebijakan yang diambil oleh pengelola destinasi di dalam menetapkan suatu daerah green zone (zona hijau) menjadi daerah wisata yang aman untuk dikunjungi.

Di dalam bubble destination ini ditetapkan batasan maksimal dari wisatawan yang berkunjung. Mereka bisa tinggal dengan dibarengi pelaksanaan protokol kesehatana (prokes) yang ketat. Kita harapkan nantinya, wisatawan yang ada di dalam bubble ini, merasa aman dan nyaman selama berwisata.

"Bubble destination ini bisa menjadi salah satu strategi penguatan branding destinasi wisata di era new normal ini," tegas TR penuh harap.

Bedanya dengan Bubble island, sambung Taufan, kalau bubble destination menetapkan kebijakannya dalam lingkup destinasi, sedangkan bubble island penerapannya lebih kepada pulau-pulau kecil (gili, red) yang selama ini menjadi favorit obyek wisata. "Misalnya, pemprov NTB menetapkan Pulau Moyo dan 3 Gili sebagai Bubble Island , pulau dengan prokes berwisata yg aman dan nyaman , kemudian ini di munculkan sbg produk wisata unggulan NTB , di marketingkan baik domestik ataupun mancanegara," pungkasnya memberi contoh. (01)