TERKAIT PENUTUPAN OBYEK WISATA : BISA DILAKUKAN DENGAN CARA LEBIH SIMPATI

Penting bagi insan dan pelaku industri pariwisata menampilkan citra yang santun dan simpati di destinasi wisata. Tidak memberi kesan takut walaupun ti
TERKAIT PENUTUPAN OBYEK WISATA : BISA DILAKUKAN DENGAN CARA LEBIH SIMPATI
Warga dan pelaku insan pariwisata tidak menginginkan pengamanan seperti ini


LOMBOK BARAT, kataberita.net - Penting bagi insan dan pelaku industri pariwisata menampilkan citra yang santun dan simpati di destinasi wisata. Tidak memberi kesan takut walaupun tidak menakutkan. Tidak memberi kesan sangar walaupun ramah dihadapan pengunjung obyek wisata.

"Mungkin bisa dilakukan dengan cara lebih simpatik meski ada pelarangan atau pengamanan diperketat," ujar salah seorang pelaku pariwisata, Usman, di kawasan obyek wisata Sesaot, Lombok Barat-NTB, Rabu (19/5). Pengamanan salah satu obyek wisata oleh petugas tim gabungan pengamanan libur lebaran di Lombok Barat sempat menimbulkan kontroversi. Pengamanan tim gabaungan oleh sebagian warga dianggap terlalu berlebihan.

Pemerhati pariwisata, Taufan Rahmadi, mengamini pandangan kalangan pelaku pariwisata di obyek wisata Sesaot. Menurut TR--sapaan akrabnya, dibutuhkan metode dan cara pengamanan obyek wisata yang lebih simpati di tengah pandemi ini. Pengamanan dengan penampilan petugas yang memberi kesan superketat dinilai bisa berdampak negatif bagi calon wisatawan. "Saya setuju dilakukan pengamanan dalam upaya mencegah penyebaran covid-19. Tapi saya yakin, banyak solusi untuk memberi rasa nyaman dan aman ketika wisatawan lokal ingin berwisata di sebagian waktu liburnya," ungkap TR.

Misalnya, lanjut TR, dengan membatasi jumlah pengunjung. Rekomendasi 50 persen dari kapasitas obyek wisata. Taat protokol kesehatan. Jaga jarak untuk menghindari kerumunan. Pariwisata tidak berdenyut dampaknya kemana mana. Pariwisata memberi dampak bagi banyak ruang kehidupan masyatakat.

TR memandang, kondisi seperti ini seyogyanya perlu mendapat perhatian. Dikomunikasikan agar lebih bersinergi bagi semua pentahelik pariwisata termasuk dengan aparat kepolisian. "Siapapun dan dimanapun, setelah hampir dua tahun kita dililit situasi pandemi, ada rasa rindu untuk berwisata. Kita butuh suasana lain untuk rilek. Jiwa yang santai bisa menambah semangat seseorang tetap hidup walaupun sedang didera penyakit," ujarnya.

TR dan sejumlah pelaku pariwisata menilai pihak pemerintah daerah, aparat kepolisian dan pemerintah pusat dalam hal ini kemenparekraf sebagai leading sector-nya pariwisata, penting membangun sinergi. Mencari solusi dan berkomunikasi lagi membuat format wisata ramah di tengah pandemi. (01)