ANEH, GILI TRAWANGAN HANYA SUMBANG 22,5 JUTA RUPUAH PER TAHUN

Terkait kontrak kerjasama pemda NTB dengan PT. Gili Trawangan Indah (GTI) sebagai pengelola, pemda hanya menikmati hasil senilai 22,5 juta rupiah per
ANEH, GILI TRAWANGAN HANYA SUMBANG 22,5 JUTA RUPUAH PER TAHUN
Suasana jumpa pers Gubernur Dr Zulkieflimansyah didampingi Kajati NTB, Tomo Sitepu

MATARAM, kataberita.net - Ada yang aneh dari pemanfaatan aset pemerintah daerah provinsi NTB di Gili Trawangan. Terkait kontrak kerjasama pemda NTB dengan PT. Gili Trawangan Indah (GTI) sebagai pengelola, pemda hanya menikmati hasil senilai 22,5 juta rupiah per tahun dari luas lahan yang dikelola PT. GTI mencapai 65 hektar.

Seperti diketahui banyak kalangan, kawasan Gili Trawangan menjadi kawasan emas destinasi wisata. Menjadi salah satu destinasi primadona bagi wisatawan mancanegara dan nusantara, maka tidak lah heran banyak investor ingin berinvestasi di pulau kecil ini. Nilai jual tanah di kawasan tiga gili pun selangit. Terlebih Gili Trawangan. Gubernur NTB, Dr Zulkieflimansyah mengaku ingin memuliakan investasi. Dr Zul-sapaan akrabnya, bahkan berkali-kali menekankan aset pemerintah daerah digunakan sebesar-besarnya bagi daerah.

"Kita tetap mempertimbangkan investasi dan kontrak kerjasama yang telah dibuat bersama PT GTI agar iklim investasi tidak terganggu," jelas Dr Zul dalam jumpa pers di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur, Kamis (03/06).

Kesepakatan baru (Addendum) pemprov bersama Jaksa Pengacara Negara (JPN) dengan PT GTI salah satunya terkait besaran kontribusi yang selama ini disetorkan ke pemerintah daerah sebesar 22, 5 juta per tahun sejak penandatanganan kontrak pada 1995 silam. Hal ini dinilai tak sesuai lagi dengan Permendagri 19/2016 tentang pedoman pengelolaan barang milik daerah.

"Kalau Permendagri 3/1986 yang dipakai dulu tidak menggunakan rumus menentukan besaran kontribusi. Itu termasuk yang akan disepakati ulang dengan PT GTI", tegas Kepala Kejaksaan Tinggi NTB, Tomo Sitepu.

Adapun beberapa klausul kesepakatan lainnya masih terus dikaji termasuk beberapa usaha warga yang menempati sebagian lahan yang dikelola PT GTI.

Menjadi semakin aneh, ketika Kajati NTB Tomo Sitepu, menyatakan belum ada temuan kerugian negara dari pengelolaan aset oleh PT GTI seluas 65 hektar. Pegiat usaha pariwisata di Gili Trawangan, Zulkarnain, mengaku aneh dan heran jika kontribusi PT GTI ke pemda hanya 22,5 juta rupiah per tahun. "Terasa aneh aj. Gili seluas ini dengan tingkat kunjungan wisatawan capai ribuan orang tiap hari? Aneh. Mustahil ....," katanya heran.

Menurut, Zulkarnain disaat kondisi kunjungan wisatawan normal, pelaku usaha di Gili Trawangan bisa meraup keuntungan ratusan juta rupiah per bulan. "Dari cara berpikir orang bodoh aj lah mas, jangankan disuruh kelola 65 hektar, 5 are aj hasilnya melimpah. Siapa sih yang tidak tahu bagaimana Gili. Saya tidak tahu, siapa yang berbohong dan menikmatinya secara tidak sah," imbuhnya sembari berdecak heran.

"Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus turun tangan melakukan penyelidikan," pinta Zulkarnain penuh harap agar kasus ini semakin jelas.(tim)