APARAT BUBARKAN TRADISI NYONGKOLAN DI MASA PPKM DARURAT

Acara nyongkolan pasangan pengantin ini dikhawatirkan memicu penyebaran virus corona di tengah pemberlakuan PPKM Darurat.
APARAT BUBARKAN TRADISI NYONGKOLAN DI MASA PPKM DARURAT
Kendaraan truk bermuatan musik kecimol dihentikan aparat

LOMBOK BARAT, kataberita.net - Jajaran kepolisian Resort Kota Mataram, aparat di Polsek Lingsar bersama Danramil dan anggota Forkopimdes Gegerung, membubarkan dan membatalkan rencana tradisi nyongkolan warga Gegerung karena berpotensi menimbulkan kerumunan massa. Acara nyongkolan pasangan pengantin ini dikhawatirkan memicu penyebaran virus corona di tengah pemberlakuan PPKM Darurat.

Gelagat akan digelarnya tradisi nyongkolan ini tercium aparat dan satgas covid-19 di desa setelah beberapa warga mulai bersiap. Musik kecimol (musik khas masyarakat Lombok yang dimodifikasi sedemikian rupa dari berbagai alat musik) disiapkan untuk mengiringi barisan pengantar calon pengantin. Dikhawatirkan menimbulkan kerumunan massa, sebelum acara dimaksud berlangsung, petugas langsung membubarkan.

Kapolsek Lingsar Polresta Mataram Iptu I Ketut Artana, tegas mengatakan segala bentuk aktivitas yang menimbulkan kerumunan dan berpotensi menyebabkan penyebaran covid-19, tidak akan diberi izin kegiatan. Dan aparat kepolisian pasti akan membubarkan. Hal itu dibuktikan Artana saat membubarkan acara nyongkolan warga Gegerung, Minggu (18/7) di Desa Gegerung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok barat.

Menurut Artana, awalnya upacara nyongkolan yang telah menjadi tradisi budaya adat sasak (Lombok) akan diselenggarakan oleh warga yang hendak menikah. Nyongkolan sedianya tetap akan dilakukan pada m8nggu sore meski sebelumnya aparat tidak memberi izin. Larangan menggelar hajatan nyongkol dilarang sesuai Surat Edaran (SE) Bupati Lombok Barat terkait PPKM.

Sebelum acara digelar, aparat bertindak setelah memperhatikan gelagat warga yang nekat tetap ingin menggelar tradisi nyongkolan di kampungnya. Kegiatan nyongkolan ini menampilkan grop musik kecimol sebagai hiburan. Jajaran polsek bersama Danramil dan anggota Forkopimdes Gegerung mengambil langkah tegas untuk menghentikan kegiatan tersebut.

"Setelah kami bernegosiasi dengan yang punya hajat bersama Danramil, kades setempat dan beberapa tokoh masyarakat setempat, akhirnya kami bisa memberikan pengertian kepada mereka dan kegiatan tersebut bisa dibatalkan," ujar Artana.

Kapolsek juga berharap kepada seluruh warganya agar memahami ketentuan PPKM yang sedang dijalankan pemerintah. Mengingat perkembangan covid-19 di wilayah kita belum menurun sehingga memaksa pemerintah untuk memberlakukan PPKM seperti yang kita alami saat ini.

"Tolong kepada seluruh warga dan kita semua agar tetap mematuhi protokol kesehatan, tetap pakai masker pada setiap kegiatan kita, sering cuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir, serta jaga jarak / hindari kerumunan agar penyebaran virus covid-19 ini bisa kita atasi bersama," pungkas Artana. (02)