YUSRON : SISI HUMANIS SERAP ASPIRASI WARGA BAGIAN DARI PENATAAN

Namun, menyerap aspirasi dari kalangan warga di tingkat bawah, menurut Yusron Hadi adalah bagian dari penataan destinasi wisata.

YUSRON : SISI HUMANIS SERAP ASPIRASI WARGA BAGIAN DARI PENATAAN
Sisi pendekatan humanis yang dilakukan Kadispar NTB, Yusron Hadi

LOMBOK TIMUR, kataberita.net - Langkah yang ditempuh Kepala Dinas Pariwisata NTB, Yusron Hadi, di mata publik mungkin dianggap tak biasa. Namun, menyerap aspirasi dari kalangan warga di tingkat bawah, menurut Yusron Hadi adalah bagian dari penataan destinasi wisata.

"Bertemu di kalangan pelaku dalam rangka penataan desa wisata adalah hal biasa. Namun, akan menjadi luar biasa ketika kita mau mencari informasi dari masyarakat kalangan bawah. Inilah sisi humanis dari cara menyerap aspirasi masyarakat," ungkap Yusron Hadi, Kamis (16/9).

Metode pendekatan, dalam rangka penataan destinasi wisata bisa dilakukan dengan banyak cara. Cara humanis seringkali dilupakan. Bagi Yusron Hadi, pendekatan humanis adalah seni penataan sebuah kawasan atau destinasi. Menggunakan pendekatan humanis, bisa jadi sebuah cara atau metode lain penataan. Yang tidak terungkap di pertemuan-pertemuan resmi, muncul di.kalangan masyarakat bawah. "Banyak aspirasi bisa kita temukan jika menggunakan cara ini. Dan betul, sisi-sisi lain yang tidak kami temukan dalam rapat-rapat resmi terungkap. Salah satunya, kearifan masyarakat lokal yang menyimpan banyak sisi unik sebuah kawasan. Sisi unik ini menjadi salah satu nilai jual sebuah kawasan wisata," terang Yusron Hadi.

Sebut saja wisata pedesaan Tetebatu, Sembalun atau Sesaot misalnya. Sesekali meluangkan waktu untuk turun ke bawah (masyarakat) menjadi penting. Banyak aspirasi bisa diserap. Banyak peluang dan potensi destinasi wisata, bisa dikreasi agar memiliki nilai jual dan nilai ekonomis. Potensi-potensi seperti.ini jarang dilirik pelaku industri pariwisata. "Padahal kalau sisi ini bisa kita 'jual', dapat menambah nilai jual sebuah kawasan. Cara ini juga bisa bermanfaat untuk masyarakat di kawasan wisata itu sendiri," imbuh Yusron.

Musanif, satu dari sekian warga di kawasan desa wisata Kembang Kuning, yang mampu memanfaatkan budaya kearifan lokal menjadi sebuah paket wisata. Misalnya proses pembuatan bubuk.kopi, proses pembuatan minyak kelapa, atau permainan tradisional yang biasa dimainkan warga lokal. "Kreatif dalam mengolah sebuah potensi lokal bisa mendatangkan nilai ekonomis. Inilah bagiam dari wisata berkelanjutan itu. Saya sepakat jika pendekatan dari sisi humanis warga menjadi cara penting melihat sebuaj keunikan obyek wisata," jelas Musanif haru dan bangga.

Pemuda berbadan tegap ini bahkan sudah memulainya sejak pulujan tahun lalu. Dan masih bertahan hingga kini. Budaya kearipan lokal di Kembang Kuning bisa bertahan sampai sekarang. Secara tidak langsung Musanif juga telah menjaga budaya lokal Kembang Kuning agar tidak tergerus zaman dan kemajuan teknologi.

Ketua Pokdarwis NTB, Ahyak Mudin, banyak memberi peran dan kesempatan masyarakat di kawasan Desa Wisata Tetebatu, bisa menikmati dunia pariwisata yang terus berkembang di Lombok Timur. "Menjaga budaya lokal, mengambil manfaat pariwisata untuk kepentinhan masyarakat banyak rahasianya adalah bagaimana membagi rejeki pariwisata ini bisa merata ke semua desa. Ini butuh ikhtiar dan kesabaran melakukan pendekatan ke masyarakat yang awam pariwisata," pungkas Ahyak. (01)