5 FAKTA RITUAL MANDI SAFAR BAGI KEBANGKITAN PARIWISATA NTB

Berikut 5 fakta Mandi Safar bagi kebangkitan pariwisata Lombok-Sumbawa (NTB)

5 FAKTA RITUAL MANDI SAFAR BAGI KEBANGKITAN PARIWISATA NTB
Yusron Hadi di moment ritual Mandi Safar-Rebo Bontong memberi semangat pelaku wisata

GILI, kataberita.net - Ritual 'Mandi Safar' di kalangan masyarakat Lombok, khususnya warga Gili Meno, dikenal dengan istilah 'Rebo Bontong'. Ritual Mandi Safar, menjadi salah satu tradisi yang paling ditunggu-tunggu masyarakat Lombok. Terlebih setelah muncul wabah pandemi covid-19. Berikut 5 fakta Mandi Safar bagi kebangkitan pariwisata Lombok-Sumbawa (NTB) di Gili Meno (6/10).

PERTAMA, Ritual 'Mandi Safar' di kalangan masyarakat Lombok dikenal dengan istilah Rebo Bontong. Dilaksanakan secara rutin dari tahun ke tahun di tiap bulan Safar (perhitungan kalender Islam). Aplikasi tradisi Rebo Bontong di Gili Meno, tersaji dalam bentuk perpaduan budaya masyarakat Lombok Utara dan dibalut dalam nuansa Islami. Ritual Rebo Bontong di Gili Meno dikemas sedemikian rupa agar menjadi daya tarik bagi wisatawan.

KEDUA, meski dalam masa pandemi, tahun ini, tradisi Rebo Bontong di Gili Meno tetap berlangsung walaupun terkesan sederhana. Sederhana, tetapi tidak mengubah makna maupun arti dari tradisi yang sudah melekat di kalangan warga Gili Meno ini. Acara tetap berlangsung khidmat yang diikuti lantunan selakaran dan dzikir. Puncak acara, menjadi momen paling ditunggu-tunggu masyarakat yaitu mandi di laut. Warga yang hadir harus rela diceburkan atau menceburkan diri ke laut.

Tradisi ini menjadi kian menarik karena Wakil Bupati Lombok Utara, Dani Karter Febrianto yang hadir diarak warga lalu diceburkan ke laut. Selain Dani, Kepala Dinas Pariwisata NTB, Yusron Hadi, ikut serta dalam ritual tradisi Rebo Bontong di Gili Meno. Tak ayal lagi, tradisi tahunan ini mengundang decak kagum dan senyum wisatawan nusantara yang hadir.

KETIGA, Yusron Hadi menilai, tradisi Rebo Bontong merupakan aset budaya masyarakat Lombok. Aset budaya masyarakat Lombok ini, jika dikemas menarik, bisa menjadi atraksi unik yang layak jual selama masa pemulihan pariwisata NTB. "Jelas ini aset berharga. Jika dikemas dalam balutan tradisi yang unik dan menarik maka tradisi ini memiliki nilai jual yang tinggi untuk pariwisata NTB. Atraksi ini layak jual dan bernilai ekonomi tinggi," jelas Yusron Hadi.

KEEMPAT, tradisi Rebo Bontong menjadi kebangkitan pariwisata NTB, khususnya di kawasan tiga Gili. Makna ritual Rebo Bontong adalah pembersihan diri atau tolak bala (melukat dalam istilah suku Sasak, red). Melukat di tengah kondisi pandemi ini, tidak saja bermakna membersihkan jiwa dan diri peserta ritual Rebo Bontong. Lebih dari itu, bagi Yusron Hadi juga bermakna membersihkan destinasi dari wabah covid-19.

Membersihkan diri selaras dengan semangat membangun kembali destinasi yang sehat dan aman. Setelah bersih dan aman, kawasan tiga Gili di Lombok Utara siap dikunjungi wisatawan. "Inilah saatnya. Pelaksanaan tradisi Mandi Safar, menjadi awal kebangkitan pariwisata NTB. Membangun semangat pemulihan kebangkitan pariwisata NTB," katanya penuh harap.

KELIMA, pelaksanaan tradisi Rebo Bontong juga menjadi pertanda, bahwa warga Gili Indah bersiap menyambut event World Superbike (WSBK) 19-21 Nopember mendatang dan event MotoGP, Maret 2022 tahun depan di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah.

"Saya yakin tradisi Rebo Bontong menjadi magnet bagi Gili Indah. Daya tarik Gili akan menjadi perhatian penonton dan wisatawan saat WSBK dan MotoGP dihelat. Kawasan tiga Gili ini pasti dikunjungi wisatawan saat perhelatan event MotoGP dan WSBK. Pesan saya bersiaplah dan jaga Gili tetap aman dan sehat," pungkas Yusron Hadi. (**)