BALI 'PESIMIS', PENERBANGAN INTERNASIONAL BISA DIGESER KE LOMBOK?

Akankah konsentrasi pariwisata dan penerbangan internasional akan bergeser ke tetangganya, Lombok?
BALI 'PESIMIS', PENERBANGAN INTERNASIONAL BISA DIGESER KE LOMBOK
Pengamat Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi

MATARAM, kataberita.net - Belum lama ini Gubernur Bali, I Wayan Koster, melontarkan kalimat 'pesimis' tentang pariwisata. Bali yang selama ini menjadi kiblat pariwisata dunia, mulai diragukan Gubernur Koster. Sikap pesimis Koster ini tidak lepas dari wabah pandemi covid-19 yang melanda dunia. Tidak terkecuali Bali-Indonesia. Lalu, kemana arah kebijakan pemerintah daerah Bali? Akankah konsentrasi pariwisata dan penerbangan internasional akan bergeser ke tetangganya, Lombok?

Belum lama ini, dihadapan sejumlah Anggota Komisi II DPR RI saat melakukan kunjungan kerja ke Bali, Gubernur Wayan Koster mengatakan, bahwa selama ini pariwisata tidak banyak memberi manfaat langsung kepada masyarakat Bali. Menurut Koster, pariwisata hanya dinikmati sedikit orang, terutama pemodal dari luar. "Begitu juga, impactnya terhadap masyarakat di Bali tidak banyak," tukas Koster pesimis.

Koster juga menyampaikan bahwa pandemi covid-19 menyadarkannya bahwa pengelolaan ekonomi yang mengandalkan pariwisata adalah salah. Koster ingin mengganti arah pengelolaan ekonomi Pulau Dewata ke arah sumber dan potensi yang lain.

"Kami sedang menyusun konsep kalau istilah Bappenas, reformasi ekonomi kami di Bali membangun ekonomi dengan kekuatan era baru. Tidak menempatkan pariwisata sebagai satu-satunya kantong kekuatan ekonomi, kami mulai bergeser sesuai potensi dan warisan leluhur kami," sebutnya.

Menanggapi sikap pesimis Koster, Pengamat Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi, menilai bahwa Bali belum siap menghadapi gelombang pandemi covid-19 yang melanda daerahnya. Menurut TR-- sapaan akrabnya, market pariwisata itu akan melihat, destinasi mana yang dianggap siap menerima kunjungan. Kesiapan itu dasarnya, bagaimana pemegang otorisasi daerah pemilik destinasi wellcome terhadap wisatawan.

"Di masa pandemi ini, yang dianggap aman dan nyaman adalah daerah yang berada di level aman dan nyaman. Jika ada daerah yang pesimis, berarti mereka belum siap menerima kunjungan wisatawan. Sekarang tidak lagi melihat siapa yang besar atau kecil. Tetapi siapa yang siap menerima kunjungan wisatawan," jelas Taufan memberi alasan.

Taufan menilai, di tanah air, banyak bermunculan destinasi unggulan selain Bali. Lombok Sumbawa salah satunya. Ketika Arif Yahya menjabat menteri pariwisata, juga melahirkan 10 Bali baru. Jika Bali tidak lagi mengandalkan pariwisata, Lombok Sumbawa diharapkan menjadi 'pelabuhan' kedatangan wisatawan di Indonesia.

Taufan juga memberi contoh, sejumlah negara yang terlalu mengandalkan sumber daya alam buminya, mulai bergeser mengandalkan pariwisata. "Kita melihat bahwa negara-negara yang akarnya dengan pariwisata, justru tetap mempertahankan pariwisata. Malah, sekarang ini trennya bukan lagi bicara oil and gas. United Arab Emirates, dulu bergantung minyak dan gas. Tetapi kemudian melakukan transformasi menjadi negara dengan mengandalkan pariwisata sebagai unggulannya,” tutur Taufan Rahmadi, Sabtu (16/10)

Penulis buku Protokol Destinasi ini menjelaskan, bahwa Saudi Arabia dulunya juga menggantungkan pemasukan dari sektor oil and gas, namun sekarang transformasinya adalah pariwisata.

“Nah, kenapa kok Bali yang kekuatannya sudah di pariwisata malah merasa pariwisata itu bukan menjadi unggulannya. Ini jangan sampai mencerminkan keputusasaan dari seorang gubernur Bali menghadapi pandemi ini,” TR memberi motivasi pelaku pariwisata di Bali.

Taufan meyakini, saat ini pemerintah pusat sedang berjuang bersama semua unsur, masyarakat, pelaku pariwisata dan stakeholder lain untuk memulihkan sektor pariwisata di Bali. (*)