DISKUSI ALOT, ASA ASOSIASI DAPAT JATAH KUOTA TIKET WSBK MENTOK

Harapan untuk mendapatkan jatah kuota tiket World Superbike (WSBK) akhirnya mentok.
DISKUSI ALOT, ASA ASOSIASI DAPAT JATAH KUOTA TIKET WSBK MENTOK
Diskusi perwakilan asosiasi dengan pihak MGPA berlangsung alot

MATARAM, kataberita.net - Harapan untuk mendapatkan jatah kuota tiket World Superbike (WSBK) akhirnya mentok. Diskusi asosiasi travel agent dengan pihak ITDC berlangsung alot. Diskusi dua belah pihak yang dimediasi Kepala Dinas Pariwisata NTB, Yusron Hadi, dilanjutkan Kamis (28/10) mendatang.

Desakan asosiasi travel agent meminta 'jatah' kuota tiket WSBK ke ITDC terungkap dalam diskusi di ruang rapat Kantor Dispar NTB, Senin (25/10). Desakan kalangan pengusaha perjalanan wisata, diawali Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) NTB, Sahlan M. Saleh. Sahlan mengaku, selama ini pihaknya tidak dilibatkan dalam penjualan tiket WSBK. Sahlan juga menyesalkan sejumlah pihak yang tidak mau berkomunikasi dengan penyedia jasa perjalanan wisata.

"Kalau kami diajak bicara dari awal, mungkin tidak akan terjadi seperti ini. Sebelumnya kami sangat optimis event WSBK akan sukses. Dan kami bisa ambil peran di sport event berskala internasional ini. Kami perhatikan harga tiket sekelas WSBK juga lebih tinggi dari MotoGP di Sepang-Malaysia," ungkap Sahlan memberi perbandingan.

Sahlan pesimis, bisa menjual tiket WSBK dalam kurun waktu tiga minggu senelum event dihelat. Tetapi dengan semangat pemuliahan ekonomi dan pariwisata, pelaku usaha travel di NTB akan berjuang keras bisa menjual tiket WSBK dan di bandling dengan paket wisata. "Bisa menjual 10 persen saja dari tiket yang tersedia, itu sudah luar biasa," tegas Sahlan mempertimbangkan rentang waktu yang tersisa.

Kami, lanjut Sahlan, ingin kerja bareng pak. Terlepas pihak MGPA dan ITDC menggunakan situs resmi penjualan tiket, tapi asosiasi travel agent di NTB juga kebagian jatah kuota tiket. Kami akan jual dengan paket wisata Lombok-Sumbawa. "Malu kami kalau acara ini tidak sukses. Kami bisa-bisa dibuly kawan-kawan di luar NTB. Kita punya alat untuk promosi. Kami gak berani promosi karena tidak ada komunikasi sebelumnya," kata Sahlan cemas.

Sejumlah pihak terlibat diskusi, seperti Ketua PHRI, Wolini

Project Director WSBK, Ahmad Husein, berdalih keterlambatan komunikasi dengan pihak asosiasi di NTB karena terkendala waktu. Persiapan yang serba mepet dan harus cepat, membuat pihak MGPA harus berpacu dengan waktu. Fokus MGPA adalah persiapan proses sampai event berlangsung harus sempurna. Kendala inilah yang melatarbelakangi pihak MGPA harus menunjuk pihak ketiga untuk penjualan tiket.

"Kami butuh banyak masukan. Tapi karena terkendala waktu kami harus bekerja cepat. Soal harga tiket yang terlalu mahal itu sudah ada kajian dari internal kami. Dan terlalu prematur kalau kita bicara soal harga tiket sekarang," ungkap Husein.

Husein juga meyakinkan asosiasi travel agent, bahwa ke depan persiapan perhelatan WSBK akan lebih baik. "Kami paham ini race pertama. Kontrak kami hingga 10 tahun ke depan. Ke depan kami akan menyiapkan lebih baik," tandasnya.

Husein juga sepakat, yang menikmati impact event ini adalah masyarakat NTB. Misi kami sekarang adalah bagaimana penyelenggaraan event ini bisa berjalan baik dan sukses. Keuntungannya bisa dinikmati banyak kalangan bisnis, hotel, restaurant, bisnis tourism, kuliner, UMKM dan usaha masyarakat lainnya.

Kadispar Yusron Hadi, meminta asosiasi travel agent bisa berkomunikasi dengan Bank NTB selaku pemegang kuota tiket WSBK. "Untuk sementara mungkin bisa berkomunikasi dengan pihak Bank NTB, Xplorin atau Dyandratiket," ujar Yusron memberi solusi.

Solusi yang ditawarkan Yusron masih dipertimbangkan kalangan asosiasi travel agent. Meski demikian, pihak MGPA dan ITDC masih akan berkomunikasi terlebih dahulu, mencari solusi lain. Karena diskusi masih berjalan alot, komunikasi berbagai pihak akan dilanjutkan Kamis mendatang. (01)