PENGAMAT : APA URGENSINYA PCR BAGI PENUMPANG PESAWAT?

kebijakan Pemerintah yang mewajibkan penumpang pesawat untuk melakukan tes tes polymerase chain reaction (PCR) menguntungkan pihak tertentu.
PENGAMAT : APA URGENSINYA PCR BAGI PENUMPANG PESAWAT?
Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahardiansyah

JAKARTA, kataberita.net - Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahardiansyah menduga, kebijakan Pemerintah yang mewajibkan penumpang pesawat untuk melakukan tes tes polymerase chain reaction (PCR) menguntungkan pihak tertentu.

“Menurut saya kebijakan yang memberatkan konsumen, jadi kebijakan diskriminatif itu, kenapa harus pakai PCR? karena dengan PCR itu mahal, berarti kebijakan itu kelihatannya ada pihak-pihak tertentu yang diuntungkan dengan kebijakan itu,” tuturnya dalam wawancara dengan media belum pama ini.

Ia juga menyampaikan, mewajibkan penumpang pesawat melakukan PCR merupakan kebijakan yang kontraproduktif lantaran biayanya masih mahal.

“Dulunya kan pakai test antigen, kenapa harus dirubah PCR. Dasarnya apa? Ini sebenarnya kan ga ada urgensinya harus pakai PCR segala kalo naik pesawat. Karena PCR itu mahal. Lebih baik tetap saja tes antigen. Berarti ini kebijakan kontra produktif,” tegas Trubus.

Lebih lanjut, Trubus menyampaikan bahwa seharusnya masyarakat bisa lebih mudah bermobilitas dengan menurunnya angka covid-19 di Indonesia. Tetapi kemudian ada kewajiban test PCR yang memberatkan masyarakat.

“Itu kebijakan kontraproduktif, karena kita sudah membuka kelonggaran-kelonggaran seperti di tempat wisata Bali, WNA juga yang sebelumnya 8 hari karantina menjadi 5 hari. Berartikan niatnya pemerintah ini sebenarnya menghidupkan pariwisata yang selama ini sudah mati suri,” tandasnya.

“Ini kelihatan free rider, penunggang-penunggang bebas yang mencoba mencari keuntungan di tengah kelonggaran-kelonggaran itu,” sambungnya.

Sementara Juru bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan, kewajiban PCR bagi calon penumpang pesawat, untuk mengantisipasi kasus negatif palsu dalam tes usap antigen. Hal ini, lantaran sensitivitas tes antigen tidak mendekati kondisi sebenarnya dibandingkan dengan tes PCR. (*)