WASPADA, GELOMBANG III COVID-19, RUSIA DAN INGGRIS SUDAH 'MELEDAK'

Warga atau wisatawan yang datang dari Rusia atau Inggris menjadi kunci tingkat kewaspadaan Indonesia saat ini.

WASPADA, GELOMBANG III COVID-19, RUSIA DAN INGGRIS SUDAH 'MELEDAK'
Kedatangan warga dari dua negara patut diwaspadai

JAKARTA, kataberita.net - Ancaman gelombang ke-3, covid-19 masih mengintai. Meski, trend penyebaran virus covid-19 melandai di Indonesia, Presiden RI, Joko Widodo meminta seluruh masyarakat waspada. Gelombang ke-3 penularan virus mematikan ini bahkan sudah dimulai di sejumlah negara. Kasus covid-19 di Rusia dan Inggris, bahkan sudah 'meledak'. Warga atau wisatawan yang datang dari Rusia atau Inggris menjadi kunci tingkat kewaspadaan Indonesia saat ini.

Jokowi, meminta warga tetap waspada akan ancaman gelombang ketiga Covid-19. Apalagi masyarakat memiliki potensi sangat abai protokol kesehatan di sejumlah kegiatan seperti pernikahan dan wisata. Pernyataan ini tentu tak main-main, Rusia dan Inggris kembali dilanda ledakan Covid-19.

Situs berita bisnis dan siaran televisi Trans Media yang bekerja sama dengan NBC Universal, CNBC menyebutkan, seperti halnya Inggris kasus Covid-19 Rusia mengalami kenaikan. Mengutip Worldometers, negeri itu mencatat 37.141 kasus baru kemarin.

Kasus ini merupakan tertinggi sepanjang gelombang Covid-19 menyerang negeri itu. Di data John Hopkins University rata-rata kasus selama tujuh hari hingga 21 Oktober adalah 33.141. Bukan hanya kasus harian tinggi, angka kematian juga makin meningkat. Di Rusia kemarin tercatat 1.064 orang meninggal.

Sejak pandemi terjadi, ada 8.168.305 kasus Covid-19. Sejak masuk ke Rusia tahun 2020, ada 228.453 kematian akibat covid-19. Guna menekan kasus, Moskow ibu kota Rusia disebut kembali akan memberlakukan penguncian (lockdown) 28 Oktober mendatang. Wali Kota Serge Sobyanin mengatakan semua toko, bar dan restoran akan ditutup. "Kecuali menjual barang penting," tegasnya dikutip dari NDTV.

Sebelumnya Presiden Rusia Vladimir Putin menyetujui penutupan tempat kerja selama seminggu 30 Oktober hingga 7 November. Ia juga merestui, para pemimpin regional memperkenalkan langkah-langkah lain atas kebijaksanaan mereka.

Kasus baru Inggris kini menembus 52.009. Angka ini merupakan rekor terbaru sejak 17 Juli 2021 di mana ada 54.674 kasus.

Total data Covid-19 Inggris sejak corona menyerang di 2020 menjadi 8,6 juta orang. Inggris menjadi negara keempat terbanyak penderita Covid-19 di dunia. Inggris juga mencatat 115 kematian baru. Atau total kematian menjadi 139.146 sejak pandemi terjadi.

Sejumlah ahli kesehatan menyuarakan "rencana B" ke pemerintah Inggris. Mereka menyebut pemerintah "melakukan kelalaian dengan sengaja" jika tak melakukan hal ini. Dokter mendesak warga kembali bekerja di rumah dan wajib memakai masker. Lonjakan banyak terjadi di klaster keluarga dan aktivitas dalam ruangan.

Mengutip BBC International, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan kasus rawat inap dan kematian tetap rendah meski infeksi tinggi. Ia pun mendesak banyak orang mendapat vaksin penguat (booster) Covid-19.

Meskipun kasusnya tinggi, pemerintah akan melanjutkan rencana strategi vaksinasi, dan sekarang keadaannya jauh lebih baik daripada tahun lalu," katanya dikutip Jumat (22/10/2021).

Sebelumnya, kenaikan ini juga diyakini akan terus terjadi. Bahkan ramalan baru dari Kementerian Kesehatan setempat menyebut kasus bisa menembus 100.000 per hari, seiring masuknya musim dingin.

Penggunaan masker, jarak sosial dan tindakan lainnya tidak lagi diwajibkan oleh hukum di Inggris.Ini kontras dengan tindakan ketat di beberapa negara Eropa, di mana bukti vaksinasi atau tes negatif masih diperlukan untuk mengunjungi bar dan restoran atau bekerja di beberapa bidang, termasuk perawatan kesehatan.

Kesuksesan vaksinasi sebelumnya juga terganggu karena mandeknya program suntikan booster dan suntikan vaksin untuk anak. Belum lagi isu lain yakni ditemukannya mutase varian Delta, Delta Plus (AY 4.2) di negeri itu. (*)