KEPULAN ASAP ARANG, PICU POLUSI DAN ISPA WARGA TATTO

asap bercampur abu pembakaran tempurung kelapa ini, menyebabkan gangguan pernapasan di kalangan anak-anak dan lanjut usia (lansia).
KEPULAN ASAP ARANG, PICU POLUSI DAN ISPA WARGA TATTO
Kepulan asap hasil pembakaran arang memicu ISPA di dusun Tatto (foto hasan)

LOMBOK BARAT, kataberita.net - Kepulan asap bercampur abu, sisa pembakaran arang di desa Bengkaung, Lombok Barat-NTB, memicu polusi udara hingga desa tetangganya, Tunjung Are. Tragisnya, asap bercampur abu pembakaran tempurung kelapa ini, menyebabkan gangguan pernapasan di kalangan anak-anak dan lanjut usia (lansia).

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) mengancam anak-anak di dusunTatto, Desa Tunjung Are, Batu Layar-Lombok Barat. Beberapa anak bahkan sudah terinfeksi. Selain anak, ISPA juga menyerang warga lansia. ISPA yang menyerang anak-anak dan lansia, terjadi setelah diserang kepulan asap, sisa pembakaran tempurung kelapa yang diolah menjadi arang oleh warga Bengkaung.

Warga Bengkaung, Amaq Wir, mengaku setiap hari mampu menghasilkan hampir 100 kilogram arang siap jual. Bahkan, untuk waktu tertentu, Wir sanggup menjual arang produksinya antar pulau hingga 25 ton. "Kalau dijual eceran harga per satu bungkus Rp. 8 ribu rupiah," katanya, saat didatangi wartawan di lokasi pembakaran arang.

Bahkan, Wir bersiap untuk menjual produksi arangnya antar pulau (Jawa-Bali). Biasanya, Wir hanya melakukan pembakaran arang sampai pukul 10 pagi. Karena permintaan meningkat, pembakaran bahkan dilakukan hingga pukul 20.00 wita.

Sumber asap yang memicu munculnya penyakit dan polusi di dusun Tatto

Menggunakan empat tungku pembakaran, produksi arang Wir mampu menghasilkan lebih banyak arang. Setelah dikumpulkan dalam kurun waktu kutang dari satu bulan, mampu menghasilkan 10 ton lebih arang siap antar. Antusiasnya warga berusaha arang, desa Bengkaung mampu memproduksi levih dari 30 ton arang siap jual.

Tidak saja Wir, warga Bengkaung lain, Marni, juga memberi penjelasan senada. Produksi arang di desa Bengkaung menurutnya sangat banyak. "Sekarang sudah banyak yang buat arang. Di sana sini orang membuat usaha pembakaran tempurung kelapa jadi arang. Bahkan sekarang bakarnya sampai malam," ujar Marni, pemilik dua tungku pembakaran tempurung.

Sayangnya, keberhasilan warga Bengkaung menjalankan usahanya tidak diimbangi dengan kepeduliannya menjaga lingkungan, polusi udara. Kepulan asap sisa pembakaran tempurung itu memicu polusi udara. Asap dan debu sisa pembakaran bahkan menyebabkan munculnya ISPA.

"Kepulan asapnya sangat menggagu. Bahkan sampai ke desa tetangga. Banyak warga yang terserang gangguan pernafasan. Usahanya tidak diimbangi dengan sistem tata kelola lingkungan yang sehat. Harusnya pemerintah segera turun tangan mencari solusi. Satu pihak seenaknya membuat polusi, di sisi lain warga di tetangga desa menderita sakit. Ini kan gak adil...," ujar warga dusun Tatto keberatan. (01)