KIAN RESAH, WARGA DESAK PEMERINTAH ATASI DAMPAK ASAP BENGKAUNG

Terlebih saat hujan rintik-rintik asap bercampur debu sisa pembakaran itu sangat mengganggu pernafasan kami
KIAN RESAH, WARGA DESAK PEMERINTAH ATASI DAMPAK ASAP BENGKAUNG
Asap proses pembuatan arang di ruang terbuka menggunakan drum bekas (foto: doc kataberita)

LOMBOK BARAT, kataberita.net - Kepulan asap sisa pembakaran tempurung, di desa Bengkaung, Batu Layar-Lombok Barat, NTB kian meresahkan warga. Dua hari terakhir, asap bercampur abu pembakaran tempurung kian menyesakkan pernafasan warga sekitar. Masyarakat mendesak, pemerintah daerah, segera turun tangan atasi polusi udara yang menyerang sistem pernafasan warga ini.

Warga di kawasan dusunTatto, Desa Tunjung Are, merasakan dampak terparah. Bahjan warga di dusun Tatto mulai mengganggu sistem pernafasan warga. Tidak saja di kalangan anak-anak, tapi juga lansia. "Bahkan jika angin cukup kencang, asap pembakaran tempurung itu bisa sampai ke dusun Sandik Atas. Terlebih saat hujan rintik-rintik asap bercampur debu sisa pembakaran itu sangat mengganggu pernafasan kami," ujar warga Tatto, Maet, Sabtu (20/11).

Karena dianggap sangat mengganggu, warga mendesak pemerintah 'turun tangan' atasi dampak lingkungan pembakaran tempurung di desa Bengkaung. Warga mulai khawatir, serangan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) kian meluas menyerang warga. ISPA bahkan dikhawatirkan warga dapat memicu kematian. Terlebih untuk kalangan anak-anak dan lansia.

"Kalau kita tidak tanggap segera menangani atau melarikan ke rumah sakit, bahaya juga mas. Kita tidak punya persiapan oksigen. Bagaimana kalau tiba-tiba diserang...bisa mati kita," imbuh warga yang kian khawatir dengan dampak polusi udara ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, kepulan asap bercampur abu ini, muncul dari sisa pembakaran tempurung. Pembakaran tempurung oleh warga Bengkaung merupakan bagian dari proses produksi arang. Arang yang diproduksi warga Bengkaung, dua tahun terakhir, menjadi mata pencaharian mereka. Dan berkembang pesat sejak pandemi covid-19 melanda tanah air. Terlebih permintaan arang di luar pulau Lombok meningkat signifikan. Selain untuk memenuhi permintaan konsumen lokal Lombok, arang produksi warga Bengkaung juga diantarpulaukan ke Jawa dan Bali.

Disayangkan beberapa kalangan, produksi arang yang menjadi mata pencaharian warga itu, tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan lingkungan yang baik dan sehat. Produksi arang di desa Bengakung justru berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat sekitar. Terlebih, kawasan Bengkaung dan desa di sekitarnya menjadi bagian dari desa penyangga destinasi wisata Senggigi.

Kepulan asap ganggu pandangan warga menuju kawasan Taman Langit

Kepulan asap di sekitar perbatasan desa sejak musim penghujan, kian mengganggu pandangan pengguna jalan. Pada jam-jam tertentu kepulan asapnya cukup tebal. Jarak pandang pengguna jalan bahkan terbatas hanya sekitar 15 meter saja. Wartawan kataberita.net yang sempat melintas di jalan desa Bengkaung merasakan sesak. Aroma asap dan abu terasa mengganggu rongga tenggorokan dan hidung.

"Masih lumayan kalau pakai masker. Warga di sekitar desa ini kan jarang pakai masker. Bayangkan saja kalau setiap hari mereka menghirup asap campur debu sisa pembakaran, kan bahaya. Karena itu pemerintah harus segera turun tangan atasi persoalan ini," pungkas warga Tunjung Are, Adi. (01)